MELBOURNE, MPNews.com – Alunan musik jukulele dan tabuhan tifa khas Maluku menggema di Federation Square, Kota Melbourne, Negara Bagian Victoria,
Australia, dalam ajang Festival Indonesia (FI) 2026. Penampilan tersebut menjadi salah satu upaya memperkenalkan kekayaan seni dan budaya Maluku kepada masyarakat internasional.
Festival Indonesia 2026 menghadirkan pameran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), aneka makanan khas Indonesia, serta pertunjukan seni musik tradisional dari berbagai daerah di Nusantara.
Kegiatan ini menjadi ajang promosi budaya Indonesia di Australia, khususnya di Melbourne yang dikenal sebagai salah satu tujuan pendidikan dan pariwisata dunia.
Dalam festival tersebut, grup Jukulele Maluku Basudara Melbourne, yang dipimpin Ina Siwabessy, tampil bersama Nico Tulalessy, Koordinator Moluccan Jukulele sekaligus pendiri Amboina Jukulele Kids Community.
Penampilan musik tradisional Maluku itu turut mewarnai panggung seni Festival Indonesia yang dihadiri pengunjung dari berbagai negara.
Sejumlah lagu khas Ambon dibawakan, di antaranya Blue Amboina Bay, Amboina Son, dan Nantikanlah Beta Maluku. Lagu-lagu tersebut dinyanyikan oleh Cornelia Patiasina, Deny Pasanea, Stefany Patinama, Pitje Tahitu, dan Aci Silooy dari Sanggar Booyratan Amahusu.
Penampilan mereka diiringi alunan jukulele yang diperkuat Marthin Nanere, Pdt. Noke Patiasina, Ina Siwabessy, serta para pemain jukulele keturunan Maluku yang bermukim di Melbourne.
Perpaduan suara jukulele dan tabuhan tifa menghadirkan nuansa khas Maluku sekaligus memperkenalkan identitas musikal Ambon kepada masyarakat internasional.
Nico Tulalessy mengatakan, keikutsertaan dalam Festival Indonesia merupakan momen penting bagi dirinya dan komunitas Maluku Basudara Melbourne untuk membawa lagu-lagu Ambon ke panggung internasional.
Menurutnya, kesempatan tersebut bukan sekadar tampil dalam sebuah festival, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan musik tradisional Maluku kepada masyarakat dari berbagai negara.
Suara jukulele dan tabuhan tifa yang mengiringi lagu-lagu Ambon menjadi bagian dari upaya diaspora Maluku menjaga warisan budaya leluhur, sekaligus memperkenalkan Ambon sebagai City of Music kepada dunia.
Pentas seni budaya tersebut turut dihadiri Konsul Jenderal Republik Indonesia untuk Negara Bagian Victoria, Yohaness Djatmiko, bersama Pelaksana Fungsi Penerangan, Sosial, dan Budaya (Pensosbud), Silvany.
Nico Tulalessy Harapkan Sinergi Budaya Maluku dan Australia
Nico berharap ke depan dapat terbangun program Cultural Synergy antara Maluku dan Australia untuk memperkuat hubungan kedua pihak melalui sektor kebudayaan.
Dia juga berharap, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia memberikan dukungan kepada kelompok-kelompok musik tradisional Maluku agar dapat tampil dalam berbagai kegiatan seni dan festival bertaraf internasional.
Menurut Nico, dukungan pemerintah sangat penting untuk membuka kesempatan lebih luas bagi para pelaku seni tradisional Maluku dalam memperkenalkan karya dan identitas budaya mereka di luar negeri.
Melalui kegiatan seperti Festival Indonesia Melbourne, musik tradisional Maluku diharapkan semakin dikenal dan mendapat tempat di panggung dunia.
Ke depan, sinergi budaya Maluku dan Australia diharapkan tidak hanya berhenti pada pertunjukan seni, tetapi juga berkembang menjadi kerja sama berkelanjutan yang melibatkan komunitas seni, generasi muda, dan berbagai pemangku kepentingan.
Penampilan Jukulele Maluku Basudara Melbourne bersama Nico Tulalessy menjadi bukti bahwa musik Ambon terus hidup di tengah diaspora. Dari Melbourne, semangat Ambon City of Music bergema, membawa identitas dan kekayaan budaya Maluku untuk dikenal lebih luas oleh masyarakat internasional. (MP/Norin)




