Inflasi Maluku Melandai Ke Level 0,75 Pada Januari 2026

oleh -15 Dilihat
oleh

AMBON, MPNews.com – Realisasi Indeks Harga Konsumen (IHK) di provinsi Maluku mengalami inflasi pada tahun 2026.

Hal ini disampaikan Plt Kepala Perwakilan Bank Indonesia Maluku Wahyu Indra Sukma, dalam reles kepada media ini, Selasa (3/1/2026). 

Dia mengatakan, berdasarkan data BPS, Provinsi Maluku mengalami inflasi sebesar 0,75% (mtm), lebih rendah dibandingkan,  Desember 2025 sebesar 0,81% (mtm).

Karena itu secara spasial,  seluruh kota penghitung inflasi yaitu Kabupaten Maluku Tengah, kota Tual dan Kota Ambon, mencatatkan inflasi masing-masing sebesar 1,44% (mtm), 2,35% (mtm),  dan 0,15% (mtm).

Sementara, secara tahunan,  realisasi inflasi Maluku tercatat sebesar 4,70% (you), berada di atas rentang sasaran target inflasi yang sebesar 2,5+1% (you).

“Realisasi ini relatif lebih tinggi dibandingkan inflasi bulan sebelumnya sebesar 3,58% (yoy), serta lebih tinggi dibandingkan tingkat inflasi nasional sebesar 3,55% (yoy),” ujarnya.

Dia mengakui, inflasi bulan ini utamanya bersumber dari kekayaan makanan, minuman dan tembakau serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan andil inflasi (mtm) masing-masing sebesar 0,83% dan 0,13%.

Sedangkan, iinflasi pada kelompok ini terutama dipengaruhi oleh peningkatan harga komoditas perikanan antara lain ikan layang ikan selar ikan cakalang dengan andil inflasi (mtm) masing-masing sebesar 0,47%, 0,18% dan 0,10%.

“Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh penurunan hasil tangkapan nelayan seiring berlangsungnya musim barat,  yang membawa kondisi laut lebih bergelombang dan berdampak pada berkurangnya frekuensi melaut,” paparnya.

Dilain pihak, realisasi inflasi yang lebih tinggi juga didorong oleh kelompok perawatan pribadi dan lainnya. Tekanan inflasi pada kelompok ini terutama dipengaruhi oleh harga emas yang mengalami peningkatan di pasar internasional dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan aset Safa Heaven di tengah ketidakpastian pasar keuangan global dan ekspektasi kebijakan moneter Global yang masih ketat di bulan Januari.

Karena itu, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus mengoptimalkan pelaksanaan berbagai program pengendalian inflasi khususnya melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).

“Ke depan upaya pengendalian inflasi komoditas pangan akan terus disinergikan secara berkelanjutan bertahunTPID sepanjang tahun 2026, dengan mengacu pada penguatan 4 pilar utama pengendalian inflasi (4K) yaitu ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi dan komunikasi efektif,” ungkapnya.

Langkah pengendalian tersebut mencakup penjagaan ketersediaan pasokan dengan penguatan Kerjasama Antara Daerah (KAD) bersama wilayah sentra produksi peningkatan keterjangkauan harga melalui pelaksanaan gerakan pangan murah (GPM) di tingkat provinsi dan kabupaten kota serta pemantauan rutin stock dengan harga barang kebutuhan pokok dan barang penting guna memastikan kelancaran distribusi.

“Komunikasi efektif terus diperkuat melalui koordinasi lintas pemangku kepentingan serta penyampaian informasi harga dan pasokan kepada masyarakat untuk menjaga ekspektasi inflasi,” tandanya. (MP/Norin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.