BKKBN Maluku Soroti MBG 3B yang Dinilai Tidak Maksimal

oleh -11 Dilihat
oleh

AMBON, MPNews.com – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B) di Provinsi Maluku masih menghadapi sejumlah kendala, akibat belum terlayani secara

Hal ini disampaikan, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Maluku, Dr. Edi Setiawan, S.Si., M.Sc., MSE, dalam Forum Komunikasi Publik bertajuk Beta Dengar, Beta Paham yang berlangsung di Kantor BKKBN Provinsi Maluku, Rabu (21/10/2026).

Dia mengungkapkan, pelayanan MBG bagi kelompok 3B turut terhenti ketika kegiatan belajar-mengajar di sekolah diliburkan.

Karena itu, program MBG tidak hanya menyasar siswa sekolah, tetapi juga kelompok masyarakat yang membutuhkan dukungan pemenuhan gizi, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita hingga usia enam tahun.

“Kalau MBG yang kita ketahui selama ini diberikan kepada siswa-siswi di sekolah, ada juga MBG yang diberikan kepada kelompok sasaran di masyarakat, namanya MBG 3B, yaitu ibu hamil, ibu menyusui, dan balita,” jelasnya.

Dia menjelaskan, makanan bagi kelompok 3B diproduksi oleh SPPG, sedangkan pendistribusiannya melibatkan Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang direkrut dan dibina oleh BKKBN. Karena itu, TPK tersebar di desa dan kelurahan di Provinsi Maluku.

“Mereka mendapat pembinaan dari penyuluh keluarga berencana (KB) dan bertugas mengantarkan makanan secara langsung kepada ibu hamil, ibu menyusui, serta balita yang menjadi sasaran program.
Namun, pelaksanaan layanan tersebut belum menjangkau seluruh SPPG yang tersedia.

“Dari 124 SPPG, baru 86 yang melakukan pelayanan untuk 3B. Ini juga masih menjadi pekerjaan rumah kita. Kenapa sisanya belum melakukan intervensi?” ungkap Edi.

Dengan demikian, masih terdapat 38 SPPG yang belum memberikan pelayanan MBG kepada kelompok 3B. Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah bagi pihak terkait untuk mengevaluasi hambatan pelaksanaan program dan memperluas jangkauan pelayanan.

Pihaknya juga mempertanyakan, persoalan penghentian distribusi makanan bagi kelompok 3B ketika sekolah diliburkan.

Karena, berdasarkan hasil peninjauannya ke sejumlah SPPG, ia menemukan bahwa liburnya kegiatan sekolah turut diikuti terhentinya pelayanan MBG bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

“Pada saat saya melakukan tinjauan ke SPPG, ternyata kalau anak sekolah libur, 3B-nya juga ikut libur. Padahal, ibu hamil harus tetap mendapatkan makanan, begitu juga ibu menyusui dan balita,” katanya.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi bahan evaluasi karena kebutuhan gizi kelompok 3B tidak bergantung pada kalender pendidikan.

Dia mencontohkan, kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Ambon yang menyebabkan kegiatan sekolah diliburkan.

Dalam situasi tersebut, distribusi MBG kepada siswa tidak dilakukan, sementara pelayanan bagi kelompok 3B juga dilaporkan ikut terhenti.

Situasi ini kata dia, diperlukan adanya aturan perlunya yang jelas agar, distribusi makanan bagi kelompok 3B tidak otomatis berhenti ketika sekolah libur atau terjadi kondisi tertentu yang mengganggu kegiatan belajar-mengajar.

Selain itu, diperlukan evaluasi untuk memastikan mekanisme distribusi tetap berjalan sesuai ketentuan dan kebutuhan kelompok sasaran.

“Evaluasi diperlukan untuk mengetahui penyebab 38 SPPG belum memberikan pelayanan, sekaligus memperjelas mekanisme distribusi bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita ketika sekolah diliburkan,” ucapnya.

Dia meminta, adanya koordinasi yang baik antara SPPG, Tim Pendamping Keluarga, penyuluh KB, dan pihak terkait, agar pelayanan dapat berjalan sesuai kebutuhan sasaran.

“Program MBG bagi kelompok 3B tidak sekadar berkaitan dengan pembagian makanan, tetapi juga mendukung pemenuhan gizi keluarga dan upaya pencegahan stunting,” terangnya.

Karena itu, lanjut dia, keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah SPPG yang tersedia, tetapi juga dari jangkauan pelayanan dan kesinambungan distribusi kepada masyarakat yang menjadi sasaran.

“BKKBN Maluku berharap berbagai persoalan tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bagi pihak terkait agar pelaksanaan MBG 3B semakin optimal dan kebutuhan gizi ibu hamil, ibu menyusui, serta balita tetap diperhatikan, termasuk ketika sekolah diliburkan,” harapnya. (MP/Norin)