AMBON, MPNews.com – Perekonomian Provinsi Maluku menunjukkan kinerja positif pada Triwulan II 2026. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Maluku tercatat mencapai 5,31 persen secara tahunan (year on year/yoy). Capaian tersebut berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di kisaran 5,22 persen pada periode yang sama.
Hal tersebut disampaikan Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Maluku, Rakhmat Pratama, dalam konferensi pers bersama wartawan di Swiss-Belhotel Ambon, Selasa (29/9/2026).
Menurut Rakhmat, pertumbuhan ekonomi Maluku ditopang sejumlah lapangan usaha yang menunjukkan kinerja positif.
Sektor pertanian, kehutanan dan perikanan menjadi salah satu sumber pertumbuhan terbesar, disusul administrasi pemerintahan, perdagangan besar dan eceran, konstruksi, serta industri pengolahan.
Sementara dari sisi pengeluaran,
Pertumbuhan ekonomi terutama ditopang oleh konsumsi rumah tangga, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), konsumsi pemerintah, serta ekspor luar negeri, dengan impor sebagai komponen pengurang.
Proyek Pemerintah Dorong Aktivitas Ekonomi
Rakhmat turut menyoroti kinerja industri pengolahan yang mencatat pertumbuhan cukup tinggi. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan aktivitas perekonomian Maluku masih bergerak meski terjadi penyesuaian transfer pemerintah pusat ke daerah.
“Walaupun dana transfer dari pemerintah daerah mengalami pemotongan, tetapi ternyata di Triwulan II kemarin dana-dana dari pemerintah pusat yang masuk ke Provinsi Maluku relatif cukup besar, sehingga turut menunjang investasi di Provinsi Maluku,” jelasnya.
Sejumlah proyek nasional yang tengah berjalan di Maluku juga disebut memberikan efek terhadap aktivitas ekonomi daerah.
Di antaranya pembangunan Koperasi Merah Putih, sejumlah proyek di Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), serta pengembangan beberapa batalyon.
Peningkatan belanja pemerintah pusat di Maluku juga dinilai turut memberikan dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi pada periode tersebut.
Pertanian dan Perikanan Mulai Menguat
Pada sektor pertanian, kehutanan dan perikanan, BI melihat adanya tren pemulihan Nilai Tukar Petani (NTP).
Perbaikan tersebut antara lain didukung meningkatnya harga sejumlah komoditas global, termasuk ikan cakalang, serta peningkatan volume produksi perikanan.
“Kita melihat ada tren pemulihan yang didukung oleh perbaikan harga komoditas global seperti ikan cakalang serta tren volume produksi perikanan yang relatif tumbuh,” kata Rakhmat.
Ia menambahkan, tren positif juga terlihat dari penyaluran kredit sektor pertanian, produksi perikanan, maupun perkembangan harga ikan.
Kondisi tersebut diharapkan terus menopang sektor pertanian, kehutanan dan perikanan yang selama ini menjadi salah satu sumber utama pertumbuhan ekonomi Maluku.
Perdagangan dan Transportasi Membaik, Pariwisata Melemah
Sementara itu, sektor perdagangan, transportasi dan akomodasi menunjukkan perbaikan. Indikasinya terlihat dari meningkatnya penyaluran kredit perdagangan, kinerja bongkar muat peti kemas, serta konsumsi listrik.
Namun, kondisi berbeda terjadi pada sektor pariwisata dan perhotelan.
BI mencatat adanya indikasi pelemahan yang antara lain ditandai dengan penurunan jumlah tamu hotel berbintang dan semakin pendeknya rata-rata lama menginap.
Menurut Rakhmat, salah satu faktor yang berpotensi memengaruhi kondisi tersebut adalah tingginya harga minyak dunia yang berdampak terhadap biaya transportasi.
Kenaikan biaya tersebut berpotensi membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam melakukan pengeluaran, termasuk untuk perjalanan dan aktivitas wisata.
BI Proyeksi Ekonomi Maluku Tumbuh Hingga 5,85 Persen
Meski terdapat sejumlah tantangan, BI tetap melihat prospek pertumbuhan ekonomi Maluku hingga akhir 2026 masih positif.
Sejumlah risiko yang perlu diwaspadai antara lain ketidakpastian ekonomi global, fluktuasi nilai tukar, harga BBM yang relatif tinggi, kenaikan biaya distribusi, serta potensi peningkatan tekanan inflasi.
Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi masih berpotensi ditopang oleh peningkatan aktivitas UMKM, harga komoditas perikanan yang relatif tinggi, program pengembangan klaster dan UMKM, optimalisasi realisasi belanja pemerintah pusat maupun daerah, serta pelaksanaan berbagai proyek strategis.
“Kalau dari hasil proyeksi kami, kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi Maluku 2026 itu berkisar antara 5,45 sampai 5,85 persen yoy,” tandasnya. (MP/Norin)




