AMBON, MPNews.com – Di tengah tantangan yang semakin kompleks yang dihadapi remaja, mulai dari persoalan kesehatan mental, adiksi media sosial, perilaku berisiko, hingga minimnya figur ayah dalam pengasuhan, Kemendukbangga/BKKBN Perwakilan BKKBN Provinsi Maluku menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Forum Generasi Berencana (GenRe) dan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) se-Maluku sebagai momentum membangkitkan kembali gerakan remaja yang lebih aktif, adaptif, dan berdampak.
Mengusung tema “Mendengar dan Didengar”, rakor yang dibuka oleh Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Maluku, Dr. Edi Setiawan, S.Si., M.Sc., MSE, tersebut tidak hanya menjadi forum koordinasi, tetapi juga ruang dialog untuk menyerap aspirasi para pengelola Forum GenRe dan PIK-R dari seluruh kabupaten/kota di Maluku. Masukan yang diperoleh diharapkan menjadi dasar dalam memperkuat pembinaan remaja di daerah.
Dalam arahannya, Edi Setiawan menegaskan bahwa pembangunan remaja tidak cukup dilakukan melalui penyampaian program semata. Menurutnya, pemerintah perlu hadir sebagai mitra yang mampu mendengarkan kebutuhan, tantangan, serta harapan remaja agar program yang dijalankan benar-benar menjawab persoalan yang mereka hadapi.
“Hari ini kami ingin mendengar langsung dari teman-teman GenRe dan PIK-R. Apa yang menjadi tantangan di daerah, apa yang masih menjadi kendala, dan bagaimana kita bisa mencari solusi bersama agar gerakan GenRe di Maluku kembali tumbuh dan memberi manfaat bagi remaja,” ujarnya, dalam Rakor yang dilaksanakan secara daring, Selasa (21/7/2026).
Ia menjelaskan, remaja merupakan kelompok strategis dalam pembangunan kependudukan dan keluarga. Berdasarkan komposisi penduduk saat ini, lebih dari seperempat penduduk Maluku merupakan Generasi Z yang dalam beberapa tahun ke depan akan memasuki usia produktif, membangun keluarga, sekaligus menjadi penggerak pembangunan daerah.
Di sisi lain, Maluku juga mulai menghadapi tantangan meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia (aging population). Kondisi tersebut berpotensi melahirkan generasi yang harus menjalankan peran sebagai sandwich generation, yaitu menopang kebutuhan keluarga inti sekaligus merawat orang tua lanjut usia. Oleh karena itu, pembinaan remaja sejak dini menjadi investasi penting dalam mewujudkan keluarga yang berkualitas.
Pada kesempatan tersebut, Kaper juga memperkenalkan transformasi BKKBN menjadi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kemendukbangga, termasuk filosofi identitas barunya yang mengusung konsep Flower, Bee, Honey.
Menurutnya, filosofi tersebut menggambarkan perjalanan remaja dalam mengembangkan potensi diri. Flower melambangkan masa pertumbuhan dan pengembangan karakter, Bee mencerminkan semangat untuk aktif berkarya dan memberi manfaat bagi lingkungan, sedangkan Honey menjadi simbol dampak positif yang dihasilkan bagi masyarakat.
“Forum GenRe dan PIK-R harus menjadi representasi dari filosofi tersebut. Remaja tidak hanya tumbuh mengembangkan potensi, tetapi juga mampu bergerak, menginspirasi, dan menghadirkan manfaat bagi sesama,” katanya.
Ia juga menilai, keberadaan Forum GenRe dan PIK-R memiliki peran yang semakin penting di tengah berbagai persoalan yang dihadapi remaja saat ini. Selain persoalan kesehatan reproduksi, remaja juga dihadapkan pada tantangan baru seperti kecanduan media sosial, paparan konten negatif di ruang digital, perjudian daring, hingga meningkatnya persoalan kesehatan mental.
Karena itu, Kaper berharap Forum GenRe dan PIK-R tidak hanya menjadi wadah pembinaan, tetapi juga berkembang sebagai ruang aman (safe space) bagi remaja untuk saling berbagi pengalaman, memperoleh informasi yang benar, serta mendapatkan pendampingan melalui peran pendidik sebaya dan konselor sebaya.
Menurutnya, pendekatan sebaya menjadi salah satu strategi yang efektif dalam menjangkau remaja karena mereka cenderung lebih terbuka ketika berkomunikasi dengan teman seusianya.
Selain memperkuat kelembagaan Forum GenRe dan PIK-R, rakor tersebut juga menjadi sarana sosialisasi berbagai program prioritas Kemendukbangga, di antaranya Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING), serta layanan konseling Halo Remaja yang dapat dimanfaatkan remaja secara gratis. Kemudian Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya) dan juga Lansia Berdaya (Sidaya).
Melalui berbagai program tersebut, Forum GenRe diharapkan mampu memperluas edukasi kepada remaja sekaligus membangun kepedulian terhadap isu-isu kependudukan, pembangunan keluarga, kesehatan reproduksi, serta pencegahan stunting.
Dalam forum itu, Kaper juga mengajak seluruh pengurus Forum GenRe, PIK-R, dan para alumni GenRe di Maluku untuk kembali memperkuat kolaborasi dan menghadirkan lebih banyak aksi nyata di tengah masyarakat.
Ia berharap tahun 2026 menjadi titik awal kebangkitan Gerakan GenRe di Maluku, tidak hanya melalui kegiatan seremonial, tetapi juga melalui program-program yang mampu menjawab kebutuhan remaja dan memberikan dampak nyata di lingkungan sekitar.
“Kita ingin GenRe hadir bukan hanya saat ada pemilihan duta, tetapi menjadi komunitas yang terus bergerak, mengedukasi, menginspirasi, dan mendampingi remaja dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Ketika GenRe bergerak, maka kita sedang menyiapkan generasi yang sehat, tangguh, dan siap membangun keluarga berkualitas di masa depan,” pungkasnya. (MP/BKKBN)






