Lisa Wattimena Dorong Seluruh Posyandu di Ambon Terapkan 6 SPM, Salurkan 34 Paket Sembako

oleh -6 Dilihat
oleh

AMBON, MPNews.com – Ketua Pembina Posyandu Kota Ambon, Lisa Wattimena, mendorong seluruh Posyandu di Kota Ambon untuk melaksanakan pelayanan enam Standar Pelayanan Minimal (SPM) secara optimal.

Hal tersebut disampaikan Lisa saat melakukan kunjungan ke Posyandu Beringin VI, Kelurahan Wainitu, serta kegiatan pemberian bantuan bagi anak stunting di Gedung PTKKI Kuda Mati, Kota Ambon, Selasa (6/10/2026).

Dalam kunjungannya, Lisa menekankan pentingnya pemenuhan enam SPM sekaligus kelengkapan kader dan administrasi Posyandu sebagai bagian dari penilaian kinerja pelayanan Posyandu secara berjenjang.

“Kebetulan ada Pak Lurah. Saya ingin bertanya, apakah seluruh Posyandu yang ada di Kuda Mati, sebanyak 13 Posyandu, sudah melaksanakan pelayanan enam SPM? Apakah semuanya sudah memiliki enam kader?” ujar Lisa.

Menurutnya, Posyandu yang telah memenuhi ketentuan tersebut harus segera melaksanakan registrasi dan pendataan sebagai bagian dari pelaporan secara berjenjang hingga ke pemerintah pusat.

“Ini akan menjadi catatan dan dilaporkan secara berjenjang ke pusat, karena ini menjadi acuan dalam penilaian kinerja, terutama dalam pelaksanaan pelayanan enam SPM di seluruh daerah, khususnya di wilayah Kota Ambon,” katanya.

Lisa berharap Kota Ambon dapat menjadi contoh bagi 11 kabupaten/kota lainnya di Provinsi Maluku dalam pelaksanaan pelayanan Posyandu berbasis enam SPM.

“Saya berharap Kota Ambon harusnya menjadi percontohan dari 11 kabupaten/kota yang lain. Semua Posyandu yang ada di Kota Ambon sudah harus melaksanakan enam SPM,” tegasnya.

Ia juga mendorong agar kader Posyandu yang masih belum lengkap dapat ditambah. Namun, penambahan kader harus mempertimbangkan kemampuan anggaran pemerintah daerah, terutama di tengah kebijakan efisiensi anggaran.

“Saya juga tidak bisa memaksakan, karena ini berkaitan dengan anggaran. Kalau penambahan satu kader berarti harus ada penambahan insentif. Kita tahu bersama bahwa keadaan keuangan saat ini memang sangat menyedihkan karena ada efisiensi anggaran,” jelasnya.

Lisa mengapresiasi Posyandu yang telah menjalankan pelayanan sesuai ketentuan. Menurutnya, pelayanan Posyandu harus benar-benar memberikan manfaat dan dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Kalau memang sudah jalan, beta apresiasi dan ucapkan terima kasih. Karena itu harapan Pembina Posyandu Kota Ambon, secara berjenjang memang sudah harus dilaksanakan supaya masyarakat semua merasakan dampak dari program yang kami lakukan,” tuturnya.

Lebih lanjut, Lisa menegaskan bahwa keberadaan Tim Pembina Posyandu mulai dari tingkat kota, kecamatan hingga kelurahan harus mampu menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung.

“Kami ingin masyarakat merasakan bahwa Tim Pembina Posyandu Kota Ambon sampai di kecamatan dan kelurahan betul-betul bisa menyentuh masyarakat. Masyarakat harus merasakan ada bantuan dan sentuhan dari pemerintah untuk sama-sama melihat permasalahan yang ada di masyarakat Kota Ambon,” ungkapnya.

Edukasi Orang Tua tentang Penyebab Stunting

Dalam kesempatan tersebut, Lisa juga memberikan edukasi kepada para orang tua mengenai sejumlah faktor yang dapat menyebabkan stunting dan kekurangan gizi pada anak.

Ia mengingatkan bahwa penanganan stunting tidak hanya dilakukan melalui pemberian bantuan makanan atau sembako, tetapi harus disesuaikan dengan penyebab utama yang dialami setiap anak.

“Pemerintah ingin memberikan bantuan kepada masyarakat harus sesuai dengan apa yang menjadi kebutuhan mereka. Jadi, tidak melulu harus memberikan bantuan dalam bentuk sembako atau makanan,” katanya.

Lisa menjelaskan, persoalan stunting dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya kekurangan asupan gizi, jumlah anak dalam keluarga, tidak mendapatkan ASI eksklusif, kondisi ekonomi keluarga, lingkungan dan sanitasi yang tidak memadai, serta pola asuh yang kurang tepat.

“Kalau masalahnya pola asuh yang salah, berarti yang harus diperbaiki adalah pola asuhnya. Bukan hanya kasih makan terus dan kasih bantuan terus, tetapi pola asuhnya juga harus diperbaiki. Kalau diberikan bantuan terus tetapi pola asuhnya tidak diperbaiki, ya sama saja,” tegas Lisa.

Ia pun mengajak para orang tua, khususnya para ibu, untuk lebih peka terhadap kondisi tumbuh kembang anak dan mencari tahu penyebab ketika anak mengalami kekurangan gizi.

“Saya ingin mengedukasi kepada orang tua yang hadir pada saat ini untuk benar-benar memperhatikan apa yang menjadi penyebab anak saya kurang gizi. Terutama para mama-mama yang lebih peka terhadap hal ini,” ujarnya.

Lisa berharap para orang tua dapat melakukan evaluasi ketika kembali ke rumah dan berdiskusi bersama pasangan untuk mencari solusi terbaik bagi pemenuhan kebutuhan gizi anak.

“Pulang ke rumah lalu refleksi lagi, kenapa anak kurang gizi? Apakah memang tidak mendapat asupan gizi yang baik? Kalau memang beta tidak mampu membelikan susu atau memberikan makanan yang baik, kembali lagi diskusi dengan suami. Bagaimana caranya supaya kebutuhan gizi anak tetap bisa terpenuhi walaupun dengan kondisi yang terbatas,” tandasnya.

Salurkan 34 Paket Sembako bagi Anak Stunting

Selain memberikan edukasi, Lisa Wattimena dalam kunjungan tersebut juga menyalurkan bantuan sembako bagi keluarga yang memiliki anak stunting.

Sebanyak 34 paket bantuan sembako diberikan kepada keluarga penerima manfaat sebagai bentuk perhatian dan kepedulian pemerintah terhadap pemenuhan kebutuhan keluarga dan anak yang mengalami stunting.

Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga, namun Lisa menegaskan bahwa penanganan stunting tidak cukup hanya melalui pemberian bantuan sembako.

Menurutnya, bantuan harus berjalan beriringan dengan edukasi kepada orang tua, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak, pemenuhan kebutuhan gizi, perbaikan pola asuh, serta perhatian terhadap kondisi lingkungan dan sanitasi.

“Jadi, tidak hanya bantuan yang diberikan, tetapi orang tua juga harus diberikan pemahaman. Karena kalau penyebabnya adalah pola asuh, maka pola asuh yang harus diperbaiki. Kalau masalahnya lingkungan, maka lingkungan juga harus diperbaiki,” jelasnya.

Sementara itu, dalam kunjungan ke Posyandu Beringin VI, Kelurahan Wainitu, tercatat terdapat 12 anak stunting di wilayah Kelurahan Wainitu, dengan dua anak menjadi bagian dari sasaran dalam kegiatan tersebut.

Lisa berharap sinergi antara pemerintah, kader Posyandu dan keluarga dapat terus diperkuat sehingga upaya percepatan penanganan stunting di Kota Ambon dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. (MP/**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.