Sukardi Kiat
Dulu mahasiswa datang ke ruang kuliah membawa buku, catatan, dan pertanyaan. Kini, sebuah telepon genggam dapat membawa semuanya sekaligus bahkan jawaban yang belum sempat dipikirkan. Dalam hitungan detik, Artificial Intelligence (AI) dapat merangkum bacaan, menawarkan ide, menjelaskan konsep, menyusun kerangka tulisan, dan memberikan jawaban yang terdengar meyakinkan. Kemudahan ini adalah peluang besar bagi pendidikan.
Namun, di balik kecepatan tersebut, muncul pertanyaan yang jauh lebih penting, siapa sebenarnya yang sedang memegang kemudi proses belajar mahasiswa atau mesin?
Pertanyaan itu menjadi semakin relevan ketika pendidikan tinggi masih bergulat dengan pola belajar yang menekankan hafalan dan reproduksi informasi. Melalui gagasan self-driving,
Rhenald Kasali membedakan mentalitas driver dan passenger. Driver menentukan arah, mengambil keputusan, berani menanggung risiko, dan bertanggung jawab terhadap perjalanan sementara passenger cenderung mengikuti dan menyerahkan kendali kepada pihak lain.
Dalam era AI, metafora ini dapat dibaca ulang melalui hubungan antara co-pilot dan autopilot. Mahasiswa seharusnya tetap menjadi driver sekaligus pemegang kendali utama atas proses belajarnya, sedangkan AI cukup berperan sebagai co-pilot yaitu membantu membaca peta, menawarkan alternatif, dan memberi peringatan ketika diperlukan.
Masalah muncul ketika co-pilot berubah menjadi autopilot sehingga mahasiswa mulai menyerahkan hampir seluruh proses berpikir, memilih, menilai, bahkan menyimpulkan kepada teknologi. Pada titik itulah AI tidak lagi sekadar membantu perjalanan belajar, tetapi perlahan mengambil alih kemudi intelektual mahasiswa.
Karena itu, persoalan utama pendidikan bukan apakah AI harus diterima atau ditolak. Menolak teknologi sepenuhnya sama tidak realistisnya dengan menyerahkan seluruh proses belajar kepadanya. Yang dibutuhkan adalah cara baru menempatkan AI bukan sebagai autopilot yang mengambil alih kendali, melainkan sebagai co-pilot yang membantu membaca medan, menawarkan alternatif, dan mempercepat navigasi.
Esai ini memberikan Gambaran bagaimana masa depan pendidikan harus memastikan manusia tetap memegang kemudi, sementara AI bekerja sebagai alat bantu.
Dari Beban Overcognitive ke Ketergantungan Digital
Kritik terhadap pendidikan yang terlalu bertumpu pada aspek kognitif sebenarnya bukan persoalan baru. Dalam gagasan self-driving, Kasali menyoroti bahaya pendidikan yang menumpuk pengetahuan tetapi kurang melatih peserta didik untuk mengubah pengetahuan menjadi tindakan.
Kondisi semacam ini sering digambarkan sebagai beban overcognitive: peserta didik banyak mengetahui informasi, tetapi belum tentu mampu menggunakannya secara kritis, lincah, dan kontekstual. Pendidikan akhirnya berisiko hanya memindahkan isi buku ke dalam kepala tanpa membentuk kemampuan untuk memahami, mempertanyakan, dan bertindak.
Kehadiran AI membuat persoalan tersebut menjadi lebih kompleks. Jika sebelumnya mahasiswa dikritik karena menghafal isi buku, kini muncul risiko yang lebih jauh. Mahasiswa bahkan tidak perlu lagi memindahkan isi buku ke dalam kepala karena mesin dapat langsung menghasilkan jawaban.
Perangkatnya berubah, tetapi mentalitas passenger dapat tetap sama. Mahasiswa mungkin terlihat produktif karena tugas selesai lebih cepat, namun proses berpikir yang seharusnya terjadi selama membaca, membandingkan, meragukan, merevisi, dan menyimpulkan justru dapat dilewati.
Di sinilah pendidikan harus membedakan kecepatan dengan pembelajaran. Jawaban yang cepat tidak selalu berarti pemahaman yang dalam. Teks yang rapi tidak selalu menunjukkan bahwa penulisnya mampu menjelaskan gagasan tersebut.
Karena itu, ukuran keberhasilan belajar tidak boleh berhenti pada produk akhir. Pendidikan perlu kembali menilai proses: bagaimana mahasiswa merumuskan masalah, memilih sumber, menguji informasi, mengambil keputusan, dan memperbaiki kesalahan.
AI dapat mempercepat pekerjaan, tetapi tidak boleh menghilangkan proses intelektual yang justru membentuk manusia pembelajar.
AI Tidak Salah; Cara Mengemudikannya yang Menentukan
AI pada dasarnya adalah alat. Nilai pendidikan dari alat tersebut sangat ditentukan oleh cara manusia menggunakannya. Seorang pengemudi tidak perlu membuang GPS hanya karena takut kehilangan kemampuan membaca jalan. Ia dapat menggunakannya untuk memperoleh informasi rute, memperkirakan waktu perjalanan, atau menemukan alternatif ketika terjadi hambatan. Namun, pengemudi tetap harus memahami tujuan dan bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil. Prinsip yang sama berlaku dalam pendidikan.
Dalam posisi sebagai co-pilot, AI dapat membantu mahasiswa menjelaskan konsep yang sulit, memetakan alternatif pemecahan masalah, menguji kejelasan suatu argumen, atau memberikan umpan balik awal.
Penelitian Kasneci et al. (2023) menunjukkan bahwa model bahasa besar memiliki peluang untuk mendukung pembelajaran dan personalisasi, tetapi pengguna tetap memerlukan literasi yang memadai, pengawasan manusia, kemampuan fact-checking, serta pemahaman terhadap keterbatasan teknologi. UNESCO (2023) juga menekankan pendekatan human-centred dalam penggunaan generative AI, yaitu menempatkan agensi, kepentingan, dan tanggung jawab manusia sebagai pusat pemanfaatan teknologi.
Masalah muncul ketika co-pilot berubah menjadi autopilot. Mahasiswa tidak lagi menggunakan AI untuk membantu berpikir, melainkan meminta AI berpikir untuk dirinya.
Pertanyaan, analisis, bahkan kesimpulan diserahkan kepada mesin tanpa pemeriksaan memadai. Lo (2023) menemukan bahwa ChatGPT dapat memberikan manfaat sebagai asisten pembelajaran, tetapi juga dapat menghasilkan informasi yang tidak akurat atau bahkan palsu. Artinya, menerima keluaran AI tanpa verifikasi bukan hanya masalah etika, tetapi juga masalah kualitas pengetahuan.
Karakter Lebih Utama daripada Hafalan
Pada titik inilah pendidikan perlu kembali mengingat bahwa kecerdasan akademik bukan satu-satunya ukuran kesiapan seseorang menghadapi dunia nyata.
Mentalitas driver menuntut karakter: disiplin diri, agility, inisiatif, kreativitas, keberanian mengambil risiko, dan kesediaan bertanggung jawab. Semua unsur itu sulit terbentuk jika pembelajaran hanya berhenti pada mengingat definisi, menyalin teori, atau mengejar jawaban yang dianggap paling aman.
AI justru membuat pembentukan karakter tersebut semakin penting. Ketika teknologi mampu menyediakan jawaban dengan sangat cepat, keunggulan manusia tidak lagi hanya terletak pada seberapa banyak informasi yang dapat disimpan dalam ingatan.
Yang menjadi pembeda adalah kemampuan memberi makna pada informasi, melihat konteks, menimbang konsekuensi, memilih di antara beberapa kemungkinan, serta tetap bertanggung jawab ketika keputusan tidak menghasilkan apa yang diharapkan. Dalam situasi seperti itu, karakter bukan pelengkap pengetahuan; karakter adalah pengarah penggunaan pengetahuan.
Karena itu, pendidikan yang relevan dengan masa depan tidak boleh hanya bertanya, ‘Apa yang diketahui mahasiswa?’ Pertanyaan berikutnya harus lebih menantang: ‘Apa yang dapat dilakukan mahasiswa dengan pengetahuan itu?’ dan ‘Apakah ia bersedia bertanggung jawab terhadap pilihannya?’ Dengan pertanyaan semacam ini, AI dapat ditempatkan secara proporsional.
Dari Ide dalam AI Menuju Eksekusi
Dalam era AI, persoalan ini semakin penting karena mesin dapat menghasilkan puluhan alternatif ide dalam hitungan detik. Kelimpahan ide justru dapat menciptakan ilusi produktivitas apabila tidak diikuti kemampuan memilih, menguji, dan melaksanakan.
Mahasiswa yang bermental driver tidak menilai dirinya dari seberapa banyak jawaban yang dapat diperoleh dari AI. Ia menilai dirinya dari kemampuannya menggunakan informasi tersebut untuk mengambil keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ketika sebuah ide gagal, ia tidak sekadar menyalahkan teknologi, dosen, kondisi, atau keterbatasan keadaan. Ia memeriksa kembali prosesnya. Tanggung jawab semacam inilah yang membedakan driver dengan passenger.
Karena itu, pendidikan masa depan tidak cukup membentuk mahasiswa yang mahir menulis prompt. Kemampuan mengoperasikan teknologi memang penting, tetapi karakter tetap menentukan arah penggunaannya.
Disiplin diri, agility, kreativitas, inisiatif, keberanian mengambil risiko, dan tanggung jawab harus menjadi kompetensi yang berjalan bersama literasi digital. Teknologi yang sangat canggih di tangan manusia yang pasif hanya akan mempercepat ketergantungan. Sebaliknya, teknologi yang sama di tangan manusia yang kritis dapat memperluas kemampuan belajar dan berkarya.
Belajar Juga Membutuhkan Ruang untuk Tersesat
Ada kecenderungan baru yang perlu diwaspadai: mahasiswa semakin tidak nyaman dengan ketidakpastian. Ketika menghadapi soal sulit, teks yang rumit, atau ide yang belum jelas, AI menawarkan jalan keluar tercepat. Padahal, dalam proses belajar, kebingungan tidak selalu buruk. Kesalahan, percobaan, dan jalan buntu sering menjadi bagian penting dari terbentuknya pemahaman.
Seorang driver tidak selalu mengetahui jalan yang tepat sejak awal. Ia mungkin salah mengambil jalur, memutar kembali, atau menemukan rute baru yang sebelumnya tidak direncanakan. Pengalaman itu membentuk kemampuan membaca situasi. Demikian pula mahasiswa.
Jika setiap kesulitan langsung diserahkan kepada AI, kesempatan untuk mengalami productive struggle dapat hilang. Mahasiswa memperoleh jawaban, tetapi kehilangan proses menemukan jawaban.
Pendidikan yang sehat tidak seharusnya menjauhkan mahasiswa dari semua kesulitan.
Tugas dosen bukan membuat perjalanan selalu mulus, melainkan merancang tantangan yang memungkinkan mahasiswa berpikir, mencoba, gagal secara aman, menerima umpan balik, lalu memperbaiki diri. AI dapat hadir dalam proses tersebut, tetapi bukan untuk menghapus seluruh kesulitan.
Co-pilot yang baik tidak mengambil kemudi setiap kali pengemudi menghadapi tikungan.
Think–Verify–Own: Menjaga Kemudi Tetap di Tangan Mahasiswa
Agar penggunaan AI tidak mengubah mahasiswa menjadi passenger, diperlukan prinsip yang sederhana tetapi dapat diterapkan.
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah Think–Verify–Own. Think berarti mahasiswa harus tetap memulai dari proses berpikirnya sendiri. Sebelum bertanya kepada AI, mahasiswa perlu memahami masalah, merumuskan pertanyaan, dan memiliki dugaan atau posisi awal. Dengan demikian, AI digunakan untuk memperluas pemikiran, bukan menggantikannya.
Verify berarti setiap keluaran AI harus diperiksa.
Mahasiswa perlu membandingkan informasi dengan buku, artikel ilmiah, dokumen resmi, atau sumber kredibel lainnya. Tahap ini sangat penting karena sistem AI dapat menghasilkan jawaban yang tampak meyakinkan tetapi keliru.
Penelitian Tlili et al. (2023) menunjukkan bahwa pemanfaatan chatbot dalam pendidikan membawa peluang sekaligus persoalan terkait kualitas respons, transformasi pembelajaran, dan etika. Karena itu, literasi AI harus selalu mencakup kemampuan mempertanyakan dan memverifikasi.
Own berarti mahasiswa harus mampu memiliki dan mempertanggungjawabkan gagasannya.
Jika sebuah paragraf terdapat dalam tugas, mahasiswa harus dapat menjelaskan maknanya. Jika sebuah data digunakan, mahasiswa harus mengetahui sumbernya. Jika sebuah kesimpulan diambil, mahasiswa harus mampu menjelaskan alasan yang mendasarinya. Kalimat ‘AI yang membuatnya’ tidak dapat menjadi alasan ketika informasi salah atau argumen tidak dapat dipertanggungjawabkan. Teknologi boleh membantu menghasilkan kemungkinan, tetapi tanggung jawab akademik tetap berada pada manusia.
Mengubah Cara Mengajar dan Menilai
Jika AI telah mengubah cara mahasiswa mengakses informasi, cara mengajar dan menilai juga perlu berubah. Larangan total mungkin mendorong penggunaan secara tersembunyi, sedangkan kebebasan tanpa aturan dapat memperbesar ketergantungan.
Jalan yang lebih realistis adalah membangun aturan penggunaan yang transparan. Mahasiswa dapat diminta menyatakan bagian proses yang menggunakan AI, menjelaskan fungsi penggunaannya, dan menunjukkan bagaimana keluaran tersebut diverifikasi.
Asesmen juga perlu memberi bobot lebih besar pada proses. Tugas dapat dilengkapi catatan perkembangan gagasan, diskusi, presentasi singkat, refleksi lisan, atau pertanyaan lanjutan. Dengan cara ini, dosen tidak hanya menilai teks akhir, tetapi juga melihat apakah mahasiswa benar-benar memahami apa yang ditulis. Pendekatan tersebut sejalan dengan temuan Lo (2023) yang menekankan perlunya pembaruan metode penilaian dan kebijakan institusi ketika teknologi AI semakin terintegrasi dalam pendidikan.
Pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan menghasilkan mahasiswa yang kalah cepat dari mesin ataupun mahasiswa yang berusaha meniru mesin. Pendidikan harus membentuk manusia yang mampu menggunakan mesin secara cerdas tanpa menyerahkan otonomi berpikirnya. Di ruang belajar seperti itu, AI tidak diperlakukan sebagai musuh, tetapi juga tidak diberikan posisi sebagai pengemudi utama.
Perdebatan mengenai AI dalam pendidikan seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan apakah teknologi ini perlu diterima atau ditolak. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah manusia seperti apa yang hendak dibentuk oleh pendidikan.
Jika kampus hanya menghasilkan mahasiswa yang mampu meminta mesin berpikir untuk mereka, pendidikan mungkin sedang membangun generasi yang sangat dekat dengan teknologi tetapi perlahan kehilangan kendali atas proses berpikirnya sendiri.
Gagasan driver dan passenger mengingatkan bahwa pengetahuan harus diikuti inisiatif, keberanian mengambil keputusan, eksekusi, dan tanggung jawab. Dalam era AI, nilai-nilai tersebut justru menjadi semakin penting. Mahasiswa tidak cukup menjadi pengguna teknologi yang cepat; mereka harus menjadi manusia yang mampu menentukan kapan teknologi perlu digunakan, kapan keluarannya harus diragukan, dan kapan keputusan harus kembali diambil dengan pertimbangan manusia.
Karena itu, AI seharusnya ditempatkan sebagai co-pilot, bukan autopilot pendidikan. Ia boleh membantu membaca peta, menawarkan rute, memperingatkan kesalahan, atau membuka kemungkinan baru. Namun, tujuan perjalanan, keputusan di persimpangan, dan tanggung jawab terhadap arah perjalanan tidak boleh diserahkan kepadanya. Masa depan pendidikan akan tetap menjadi masa depan manusia selama kemudi berpikir tetap berada di tangan manusia.
***
Sukardi Kiat adalah mahasiswa di Jurusan Teknik Sipil, Politeknik Negeri Ambon. Tulisan ini meraih Juara 3 di Lomba Esai Kontemporer antar Mahasiswa se-Maluku dan Maluku Utara pada rangkaian kegiatan Kompetisi Debat Mahasiswa Indonesia (KDMI) Politeknik Negeri Ambon 2026 dalam menyongsong Dies Natalis Politeknik Negeri Ambon ke-39.





